![]() |
| Buku 1: Jerawat, Kisah Di Balik Wajah Manusia. |
Sebagai pakar kulit yang rutin berhadapan dengan pasien di ruang praktik, saya sering mendengar tangisan keputusasaan saat mereka menatap cermin. Banyak orang menganggap jerawat sebagai sebuah kutukan modern atau tanda bahwa mereka gagal merawat diri. Namun, bagaimana jika saya memberi tahu Anda bahwa jerawat sebenarnya adalah warisan evolusi yang menceritakan perjalanan panjang peradaban kita? Inilah kail pemikiran yang membuat saya sangat terpukau saat pertama kali membaca buku Acne: The Story Behind the Human Face.
Sebagai seorang etnolog, saya selalu mencari benang merah antara biologi dan budaya. Buku pembuka dari tetralogi ini menyajikan hal tersebut dengan sangat brilian. Penulisnya seolah mengajak kita berjalan jalan menyusuri lorong waktu bak sebuah museum hidup. Anda akan diajak melihat bagaimana jerawat sudah eksis sejak zaman Homo erectus, terekam dalam relief Mesir kuno, hingga menjadi bagian dari mantra herbal abad pertengahan. Sungguh sebuah kajian multidisiplin yang jarang disentuh oleh literatur kecantikan arus utama.
Hal yang paling mengesankan bagi saya sebagai seorang editor adalah cara penyampaian pesan berat ini. Membahas teori evolusi, tekanan sosial, standar kecantikan, dan kapitalisme industri kosmetik tentu bisa sangat membosankan. Namun, penulis membalutnya dengan gaya bahasa anak muda yang sangat segar. Anda akan menemukan istilah gaul Gen Z hingga bahasa prokem jalanan Jakarta seperti kata anjay yang membuat pembacaan terasa mengalir bagai mengobrol dengan sahabat sendiri di kedai kopi.
Buku ini menelanjangi industri yang selama ini meraup untung dari rasa tidak aman kita. Setelah membaca halaman demi halamannya, perspektif Anda tentang kulit pasti akan bergeser. Jerawat bukan lagi sebuah kecacatan yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari identitas kemanusiaan kita. Jika Anda selama ini merasa sendirian dan terasing karena kondisi wajah Anda, saya sangat menyarankan Anda meluangkan waktu untuk menyelami buku ini. Mari berhenti memusuhi cermin dan mulailah memahami kisah epik yang tertulis di atas kulit Anda.
